DESA MANGGIHAN KEC. GETASAN KAB. SEMARANG

: Jalan Nakulo No. 28 Manggihan Kodepos 50774 | : - | : pemdesmanggihan@gmail.com

Tentang Desa Manggihan

Pada dasarnya sangat sulit untuk menuliskan sejarah asal-usul Desa Manggihan secara tepat dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya pelaku maupun saksi sejarah yang masih hidup dan dokumen serta bukti sejarah otentik yang dapat dijadikan sebagai bahan penelusuran sejarah lebih lanjut. Namun demikian penelusuran sejarah Desa Manggihan bukan-lah pekerjaan yang tidak mungkin dilakukan,mengingat budaya bertutur / bercerita masih sangat lekat pada sebagian besar masyarakat Desa Manggihan. Berawal dari budaya bertutur/ bercerita inilah yang kemudian melahirkan kepercayaan sebagai besar masyarakat Desa Manggihan akan sejarah desanya.

Melalui metode wawancara dengan Sesepuh Desa, diceritakan secara turun temurun dan diyakini kebenarannya bahwa pada tahun 1800 M ada pengembara dari Serang Banten yang hijrah ke Keraton Solo dalam miisi menyebarkan agama Islam. Setelah di Solo sebagian melanglang di wilayah Salatiga dan ada yang ke arah Gunung merbabu.

Awal sejarah Desa Manggihan, konon pada waktu itu rombongan pengembara singgah di Gempol yaitu Syeh Maulana Hasan Samadi beserta para pengikut yang berjumlah 4 (empat) orang. Setelah berisitirahat sejenak melanjutkan perjalanan ke arah bara, ketemulah sapi dan kambing tetapi tidak ada penggembalanya. Lalu dicari Penggembalanya yang dalam bahasa Jawa “nggoleki seng angon”, maka disitu diberi nama Sengon dan sampai sekarang dinamai Dusun Sengon. Rombongan pengembara tersebut melanjutkan perjalan ke arah utara dan bertemu orang yang dipasung akhirnya tempat tersebut dinamakan “Pusung”.

Dalam perjalanan selanjutnya bertemu dengan orang yang sedang sakit. Dengan berdoa memhon ijin dari Tuhan Yang Maha Esa, orang tersebut sembuh dan dalah bahasa jawa “Manggih Raharjo” sehingga tempat tersebut dinamakan Manggiharjo. Dalam melanjutkan perjalanan ditengah jalan terhalang kayu besar yaitu kayu gondang. Sang Syeh memrintahkan kepada pengikutnya untuk menebang, dalam bahasa jawa “kayu digorok” dan akhirnya tempat itu diberi nama Gondang Gorok.

Karena capek, akhirnya diputuskan untuk singgah di pedukuhan yang telah disepakati untuk pertemuan atau dalah bahasa jawa “pepanggihan”. Pada saat itu diceritakan bahwa orang-orang yang bertempat tinggal di pedukuhan itu banyak yang menganut agama Budha, sebagian belum kenal agama dan memuja roh-roh ghaib. Melihat keadaaan ini, Syeh Maulana Hasan Samadi dengan kearifandan kesabarannya memperjuangkan agar benda-benda dan senjata yang waktu itu di puja-puja agar dikubur atau di “pendem” dalam bahasa jawa. Tempat untuk mengubur benda-benda tersebut sekarang menjadi Dusun Pendem.

Selanjutnya dikisahkan bahwa Syeh Maulana Hasan Samadi melanjutkan perjalanan ke pedukuhan Randusari. Karena pada waktu itu orang-orang masih sangat susah untuk menganut agama Islam dan masih kental keyakinan ke arah ghoib, akhirnya diajaklah orang-orang untuk mencari “wahyu katentreman” dan dikatakan oleh Syeh “Kae wahyu wes tumurun”. Sejak itulah Randusari dinamakan Seturun sampai sekarang.

Belum berakhir perjalanan, konon diceritakan bahwa dalam mencari sumber air untuk kebutuhan para pengikutnya diganggu oleh roh-roh halus, dengan kesaktiannya roh-roh halus tersebut akhirnya menyerah “ndeprok” dalam bahasa Jawa, sekarang tempat tersebut dikenal warga Depok. Namun tidak semuanya menyerah ada yang wajahnya paling jelek lari ke bawah dan saking kesalnya Syeh mengatakan “dasar koyo jongos” dan tempat itu dikenal dengan Bongos, sedangkan yang lainnya ada yantg lari ke arah gunung. Karena terkejar dan terkepung oleh pengikut-pengikutnya, roh-roh halus tersebut bersembunyi di kayu “growong” dan tertangkap, sehingga wilayah itu dinamakan Gowongan.

Misi sang Syeh berhasil menyebarkan agama islam di tempat-tempat yang disinggahi, pengaruh yang sangat kelihatan pada waktu itu orang mempunyai anak banyak dikasih nama depan “Moh”. Dan untuk memantapkan warga sang Syeh memutuskan tinggal di Manggihan sembari selalu mengatakan “Wahyu Katentreman bakal kepanggih”. Beliau dan para pengikutnya wafat di tempat yang dahulu dijadikan sebagai temapat “pepanggihan” dan dimakamkan di Makam Dusun Manggihan. Dan sejak itu makam Syeh Maulana Hasan Samadi dikenal oleh masyarakat Desa Manggihan dan sekitarnya disebut makam Kyai Panggih.

Adapun data Pemimpin Desa Manggihan sebagai berikut :

  1. .......
  2. Karto Leksono
  3. Amat Drais
  4. Harjo
  5. Wongso Wikarto
  6. Cokro Witono
  7. Sumadi
  8. Slamet Sastro Wiyono s.d 1963
  9. Suyoto 1963-1965
  10. Suto Pawiro 1965 – 1980
  11. Suko Hartono 1980 – 2007
  12. Jumar 2007 – 2013
  13. Supriyadi 6 Desember 2016 s.d sekarang

ALBUM